Diambang Intoleransi

Opini Toleransi

29 dilihat


Indonesia dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika kini terancam dengan adanya intoleransi yang semakin jelas terlihat di masyarakat. Semboyan persatuan Indonesia tak kemudian membuat masyarakatnya menerima perbedaan yang ada.

Maraknya sikap intoleransi belakangan ini ditunjukkan secara terang-terangan dengan mengatasnamakan agama dan Indonesia. Golongan-golongan tertentu rela dengan sengaja membentuk konflik demi kepentingannya masing-masing.


Menolak Perbedaan

Banyak orang kini menolak perbedaan yang ada di masyarakat. Sikap intoleransi kini juga mulai meradang di kalangan generasi muda yang notabennya adalah golongan berpendidikan yang seharusnya mampu menentukan sikap secara bijaksana, mengingat ilmu yang dimilikinya. Padahal generasi muda akan menjadi penerus bangsa yang seharusnya mampu menjaga perdamaian dan persatuan Indonesia  juga menjunjung tinggi Pancasila, bukan malah ikut berkontribusi dalam perpecahan.

Banyak ditemukan bentuk nyata dari intoleransi dalam kehidupan sehari-hari seperti penolakan secara kasat mata terhadap golongan minoritas. Dengan mengatasnamakan agama juga banyak terjadi penolakan dengan menunjukan sikap-sikap tak seharusnya terhadap golongan yang berbeda. Bukankah kepercayaan merupakan hak masing-masing individu? Bukankah kepercayaan merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhannya? Agama merupakan suatu hal yang bersifat privasi yang seharusnya setiap orang mampu untuk menghargai setiap pilihan masing-masing individu terhadap agama yang ada. Bahkan dalam Undang-Undang Dasar Pasal 29 Ayat 2 jelas dituliskan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya". Pemerintah juga secara resmi mengakui enam agama dalam Indonesia yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Agama selalu mengajarkan hal-hal yang menuju pada kebaikan tetapi orang-orang yang mengatasnamakan agama malah menunjukan sikap sebaliknya dari dasar keagamaan yaitu kebaikan.

Sebagai mayoritas dan menganggap agama yang dianut paling benar kemudian melecehkan agama lain juga menjadi salah satu bentuk intoleransi yang ditemukan pada generasi muda belakangan ini. Menjadikan kepercayaan sebuah bahan gurauan menunjukan minimnya sikap saling menghorati terhadap agama yang berbeda dan ini menjadi cerminan buruk dari generasi muda. Tidakkah hidup berdampingan, saling menghormati, dan menyayangi itu indah? Dengan banyaknya doktrin dari golongan tertentu melalui berbagai cara berhasil menggoyahkan generasi muda Indonesia belakangan ini. Anggapan bahwa agama lain selain agamanya salah, ditunjukkan dengan sikap yang agresif yang menunjukan moral yang rendah.

Kepercayaan merupakan hal spiritual yang datang dari hati manusia kemudian hubungannya dengan Tuhan yang seharusnya menjadi hal yang khidmat dan pribadi yang tidak siapapun boleh meganggu atau menginterupsinya, apalagi menjadikannya bahan gurauan atau alat-alat dalam kepentingan berpolitik dan hal lainnya. Selama setiap individu mampu menjaga kehidupan bermasyarakat tanpa merugikan makhluk hidup lain dan komponen pendukung lainnya yang ada di bumi ini, masalah perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan terjadinya konflik. Sikap saling menghargai atas hak dan pilihan setiap individu menjadi dasar terbentuknya masyarakat yang damai.

Source : okezone

Terkait

Warga vs Developer Perumahan
Senyum Seorang Pria Biasa
Penipuankah?
Kurangnya Fasilitas Zona Selamat Sekolah

Laporkan Suratpembaca ini : admin at suratpembaca.web.id
Tolong Sertakan URL / Alamat lengkap halaman ini

Komentar