RS JMC dan Dr Hamdan

RS JMC

Home > Finansial > Asuransi > RS JMC dan Dr Hamdan

3764 dilihat


Sebagai orang tua rasanya saya tidak akan bisa memaafkan diri saya sendiri karena telah membuat kesalahan terbesar dalam hidup. Yaitu yaitu mengantar anak saya ke RS JMC (Jakarta Medical Center) Buncit Raya untuk dioperasi kakinya oleh Dr Hamdan SpOT. Yang berbuntut kaki anak saya pincang hingga saat ini. Rasa miris dan sedih selalu menghantui saya ketika melihat anak saya yang mulai beranjak menjadi seorang gadis remaja berjalan bersama teman-teman sebayanya. Dia berjalan tidak seperti semula, sekarang pincang karena panjang kedua kakinya tidak lagi sama. Ceritanya berawal ketika beberapa tahun silam anak kami terjatuh saat bermain. Dia mengeluh sakit pada kaki kirinya.

Kami berpikir hanyalah keseleo biasa. Jadi dikompres dan diberi betadine untuk memarnya. Beberapa hari kemudian dia luka lecetnya sembuh dan dia berjalan seperti biasa. Setelah kejadian ini anak kami kadang-kadang mengeluh sakit pada lutut kirinya. Karena keluhan yang terus menerus kami bawa ke RS Fatmawati untuk discan. Ternyata menurut dokter disana ada bekas keretakan tulang lutut karena kejadian sebelum sehingga perlu penanganan lebih lanjut untuk meluruskan posisi tulang (dioperasi). Asuransi kami tidak menjalin kerja sama dengan RS Fatmawati maka saya mengambil inisiatif untuk mendatangi RS JMC yang memang lebih dekat dengan tempat tinggal saat itu.

Setelah lewat beberapa kali konsultasi Dr Hamdan SpOT dari RS JMC menganjurkan kami menentukan tanggal operasi. Maka April 2010 operasi pertama dilakukan. Jauh sebelum operasi dan sampai menit akhir saat akan operasi dokter Hamdan sama sekali tidak memberi keterangan lebih dahulu mengenai akibat atau resiko operasi yang akan terjadi. Kami berpikir semuanya akan berjalan baik.

Namun selesai operasi saat anak kami masih terbaring lemas di meja operasi, dokter Hamdan mendatangi kami menyerahkan bekas tulang beberapa centimeter yang dipotong dan mengatakan kepada kami orang tua bahwa kaki kiri anak kami lebih pendek dari kaki kanan. Kami, terutama istri saya, sangat terpukul, sedih dan marah namun kami berusaha menahan diri karena tidak ingin mengganggu proses penyembuhan anak kami.

Kami mengikuti semua prosedur rawat inap dan rawat jalan sampai bulan Oktober 2010 operasi kedua dilakukan dokter Hamdan untuk melepaskan pen (sektrup). Seperti biasa selesai operasi kaki discan, dan jelas terlihat bahwa bukan hanya kaki tidak sama panjang tetapi juga kaki kiri tidak lurus alias bengkok. Perawat asisten dokter pun berkomentar yang sama dan bicara dengan dokter Hamdan ‘dok, kok kaki pasien tidak sama panjang dan bengkok?’ Begitu katanya yang tidak dihiraukan dokter Hamdan. Kami sangat kecewa dalam hati tetap tetap berprinsip kesembuhan anak menjadi prioritas saat itu.

Selesai rawat inap dokter Hamdan memberi advice anak kami masih harus memakai tongkat selama satu minggu ke depan, setelah itu boleh berjalan tanpa tongkat. Kami sedikit lega karena anak kami akhirnya akan bisa berjalan tanpa pen dan tongkat terlepas dari kaki bengkok dan tidak sama panjang. Nasihat dokter kami ikuti, saya bahkan minta anak kami tetap menggunakan tongkat lebih dari satu minggu.

Sekitar sepuluh hari tongkat dilepas dan anak kami berjalan tanpa tongkat walaupun masih pelan-pelan. Kegembiraan kami hanya berumur setengah hari karena siang itu saat berjalan tiba-tiba kaki anak kami patah lagi. Dari hasil scan di RS JMC terlihat cukup jelas patahan terjadi pada bekas skrup yang belum lama dibuka. Dokter Hamdan yang datang terlihat panik melihat pasiennya mengerang kesakitan.

Semua nasihat kami ikuti tetapi nasib baik tidak berpihak pada kami. Maka hari itu operasi ketiga dilakukan. Kaki anak kami dipasangi lagi pen. Saya hanya bisa berlutut dan menangis, menengadah ke atas ‘Tuhan, cobaan apalagi yang kami terima? Belum cukupkah sengsara yang diderita putri kami selama ini?’ Semua prosedur rawat inap dan rawat jalan selama setahun kami ikuti. Saya tidak mengerti kenapa operasi pertama hanya butuh waktu sekitar enam bulan untuk membuka pen, tetapi operasi terakhir butuh satu tahun untuk buka pen.

Maka Oktober 2011 operasi keempat dilaksanakan untuk membuka pen. Setelah segala penderitaan, sakit hati, waktu, tenaga dan biaya hasilnya lebih buruk dari keadaan semula: kaki kiri bengkok dan lebih pendek dari kaki kanan. Padahal tujuan awal operasi adalah meluruskan tulang kaki yang sedikit bengkok karena pernah ada keretakan yang tidak kami sadari. Penderitaan fisik yang selama proses penyembuhan sudah terlewati tetapi kini penderitaan bathin yang diderita anak kami yang mulai beranjak gadis rasanya lebih dasyat. Saya tidak tahan melihat keadaan ini dan memberanikan diri mendekati pihak RS JMC.

Pertengahan 2012, perwakilan keluarga mendapat kesempatan untuk bertatap muka dengan pihak RS JMC. Saya sendiri tidak hadir karena saya kawatir tidak bisa menahan emosi yang selama ini terpendam, tetapi tetapi komunikasi lewat email. Tujuan kami adalah bagaimana pihak RS JMC mencoba cari solusi untuk memulihkan keadaan kaki anak kami karena kami tidak mau dia menderita fisik dan bathin di sisah hidupnya. Pertemuan pertama manajemen RS JMC berjalan baik dan mereka berjanji mempertemukan pihak keluarga dengan pihak owner pada pertemuan kedua. Namun kami sangat kaget karena pertemuan kedua tidak berlangsung lama.

Pihak keluarga dihadapkan dengan sejumlah staf rumah sakit dan sekelompok anggota pengacara dari grup Sholeh, Adnan & Associates yang bermarkas di Graha Pratama Jl MT Haryono. Pihak yayasan RS JMC serta merta secara arogan membela diri dan dokter Hamdan. Katanya semuanya itu bukan malpraktek. Kalau pihak kami tidak menerima, silahkan diproses secara hukum. Secara finansial saya tidak mampu menyewa pengacara dan membawanya ke rana hukum. Saya sudah mencoba cari bantuan hukum ke berbagai lembaga bantuan tetapi untuk kasus seperti ini rupanya tidak mudah mendapat bantuan.

Saya yakin dan percaya apabila hal yang sama menimpa anak dari owner atau pengacara-pengacara mereka pastilah situasinya akan berbeda. Saya menuliskan email kepada pengacara yang mewakili RS JMC mencoba menjelaskan keadaan yang menimpa kami. Jawabannya sama, kalau tidak puas silahkan diproses ke pengadilan. Sangat klasik. Rekan-rekan Surat Pembaca, bila ada saran atau masukan yang berarti saya akan sangat berterima kasih.

Saya yakin ada sesuatu yang tidak beres dalam kasus ini dan kesalahan atau malpraktik yang dilakukan RS JMC dan Dr Hamdan. Menuliskan kisah ini di Surat Pembaca paling tidak mengurangi sakit hati saya dan juga ujud tanggung jawab serta permintaan maaf secara tidak langsung sepada anak saya karena sebagai orang tua telah mengambil keputusan yang salah yang berpotensi menghancurkan masa depannya. Saya masih menunggu inisiatif baik dari pihak RS JMC dan Dr Hamdan untuk mencari solusi atas kesalahan operasi yang mengakibatkan anak saya pincang.

Petrus PF Titirloloby
Jatiranggon Jatisampurna
Bekasi




Source : kompas
Silahkan Login / Daftar untuk memberi tanggapan




There are no comments yet.
Authentication required
You must log in to post a comment. Log in
jasa foto produk
Sebelum request penghapusan artikel mohon request penghapusan kepada sumber terlebih dahulu, jika belum solved / terhapus kami akan abaikan

Laporkan Suratpembaca ini : admin at suratpembaca.web.id
Tolong Sertakan URL / Alamat lengkap halaman ini